Mengangkat Komoditas Ikan Air Tawar Potensial Ekspor

bdg

Kamis, 9 Juli 2015


Surabaya – Kebutuhan pasar Internasional akan komoditas hasil perikanan sangat tinggi, hal tersebut seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dunia akan pentingnya kesehatan. Indonesia sendiri sebagai salah satu eksportir hasil perikanan telah mengekspor komoditas hasil perikanan ke berbagai Negara di belahan dunia. Salah satu komoditas yang menjadi unggulan adalah Udang, Tuna, Berbagai ikan laut dan sebagian kecil komoditas dari ikan air tawar. Jawa Timur, sebagai salah satu provinsi yang menyumbang nilai ekspor cukup besar di skala Nasional juga mengekspor komoditas tersebut, akan tetapi sumbangan untuk ekspor komoditas ikan air tawar masih sangat kecil.

Jawa Timur sebagai tolok ukur ekspor perikanan nasional, memalui Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Timur  menangkap adanya peluang untuk mengembangkan mengembangkan ekspor komoditas ikan air tawar seperti ikan Nila, Patin, Lele dan Gurami. Berdasarkan data dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), kebutuhan pasar akan komoditas ikan Tilapia (Nila) di Amerika Serikat cukup besar. Pada tahun 2014, serapan pasar ikan nila mencapai 230.644 ton dengan nilai mencapai 1.114 juta USD, hal ini meningkat sekitar 10% dari tahun sebelumnya.

Dari total serapan pasar komoditas nila di Amerika tersebut, di tahun 2014 Indonesia hanya mampu berkontribusi sebesar 5% atau sekitar 11.608 ton dengan nilai 76.325 juta USD. Sementara negara china mampu mendominasi dan berkontribusi hampir 75% pasar nila di Amerika. Lihat diagram 1.

diagram ekspor nila2

Gambar 1. Diagram Kontribusi Ekspor Ikan Nila di Pasar Amerika Tahun 2014

Melihat peluang pasar yang cukup besar serta ketersediaan sumber daya yang ada, maka Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Timur mencoba mengembangkan salah satu komoditas ikan air tawar untuk di ekspor yaitu ikan Nila. Kendala yang dihadapi saat ini adalah ketersediaan bahan baku untuk industri yang kurang, baik dari segi kualitas (ketebalan daging, rendemen, dll) maupun dari segi pasokan bahan baku. Mengingat, berdasarkan data susenas 2014, sebenarnya produksi ikan nila sudah habis untuk dikonsumsi oleh masyarakat Jawa Timur sendiri. Untuk itu, pemerintah Jawa Timur melalui Dinas Perikanan dan Kelautan mencoba menyusun/merancang sebuah konsep kesinambungan antara hulu dengan hilir yang nantinya akan diaplikasikan dilapangan, dengan harapan kualitas ikan nila di Jawa Timur mampu berdaya saing di pasar ekspor dan pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan para pelaku usaha dibidang perikanan.


SC_2

 

*

*

Top